Opini

CERPEN: Merpati Di Rumah Merah

Oleh:
Apriana Oktafiani

“Nah, kalau Asya gimana? Apa cita-citamu?” Suara lembut Bu Guru menyapa telingaku.

Aku terdiam, menelengkan kepala ke samping untuk berpikir. Mataku melirik ke sekeliling kelas. Semua tampak sibuk melakukan tugas dari Bu Guru. Ada yang menggambarkan dirinya yang sudah besar memakai jubah putih sambil memegang alat aneh mirip telepon yang biasa dipakai Pak Dokter. Ada juga yang menggambar dirinya menyanyi di panggung yang ramai oleh orang.

Semua kertas temanku sudah dipenuhi aneka warna dan gambar yang sangat keren, namun tentu saja tidak lebih keren dari milikku! Dengan bangga, aku memberikan sentuhan terakhir untuk gambar milikku dan menyodorkannya ke hadapan Bu Guru.

Sejenak, raut wajah Bu Guru berubah jadi heran setelah melihat gambar milikku sebelum ujung mulutnya kembali terangkat, membentuk senyum hangat yang aneh.
“Wah, Asya mau jadi pelukis ya?” ucap Bu Guru.

Alisku berkerut mendengar ucapan Bu Guru. Aku menggelengkan kepalaku dan menunjuk gambar yang ada di kertas.
“Kok pelukis sih, Bu? Asya mau jadi ini loh!” protesku.

Pertanyaan Bu Guru sangat aneh, padahal aku sudah menggambar dengan jelas. Di atas kertas, aku menggambar rumah dengan krayon berwarna merah: ada atap bercerobong asap, satu pintu di bagian depan dan 2 jendela bertirai di samping pintu. Di samping rumah itu, ada pohon besar berwarna hijau cerah.
Menanggapi protesku, Bu Guru menatapku beberapa detik lebih lama.

“Ini… Asya mau jadi rumah?” Tanya Bu Guru ragu.

Keraguan Bu Guru luput dari perhatianku. Aku mengangguk senang. Senyum sumringah terukir di wajahku. “Nah, itu Ibu tahu!” kataku dengan bangga atas jawaban Bu Guru.

Berbeda denganku yang bahagia, Bu Guru justru tampak kebingungan. Dan sepertinya temanku yang tadinya asyik menggambar diam-diam memperhatikan percakapanku dengan Bu Guru karena salah satu dari mereka berceletuk.

“Rumah? Dasar aneh, itu kan tempat tinggal! Mana bisa jadi cita-cita!” Ucap temanku sembari mengerutkan alisnya.

Mendengar jawabannya, alisku ikut mengerut, tidak menerima sanggahannya yang jahat. “Asya gak aneh! Lagian, kan Bu Guru juga bilang, cita-cita itu bisa jadi apa saja!” Gerutuku sambil mendengus.

Mataku melirik ke sekeliling, berharap teman-teman yang lain ikut membelaku. Namun, tak seperti yang kuharapkan. Mereka tidak membela—tatapan mereka sangat aneh dan asing, menakutkan. “Asya kan gapunya pintu, semua rumah punya pintu!”

“Berarti, nanti kalau sudah masuk musim hujan, kepala Asya bakal keluar asap dong! Hahaha!”

Seisi kelas sekarang dipenuhi tawa kecil temanku yang saling bersahutan. Aku terpaku di mejaku. Wajahku terasa panas. Suara mereka yang nyaring sangat menakutkan. Tanpa kusadari, kertas gambar yang kugambar sepenuh hati menghilang, bersembunyi di genggaman erat tanganku.

Dulu, aku merengek kepada Ibu tiap malam karena ada monster yang menakutkan masuk. Untuk menenangkanku, Ibu mengajakku untuk menonton pertunjukan sirkus di kota. Seluruh pengunjung saat itu tersenyum ria, menertawakan tuan badut yang lucu sekali. Aku juga ikut tertawa bersama mereka, namun setelah dipikirkan lagi, apakah tuan badut itu juga merasa senang? Karena sekarang aku berada di posisi yang sama dengannya dan aku tidak merasa senang.

Aku terkulai lemas di mejaku, mengadah ke bawah untuk bersembunyi di balik uraian poniku. Aku bisa mendengarkan tawa temanku berangsur-angsur menghilang saat Bu Guru mengatakan sesuatu. Tapi hal itu tetap saja tidak bisa menghapus coretan yang sudah terlanjur ada. Kalimat Bu Guru yang menyuruh mereka tenang terdengar jauh sekali, seperti tersapu angin.

Genggaman erat pada kertas di tanganku tidak melonggar sedikit pun, bahkan ketika bel pulang telah lama berlalu. Kaki kecilku mulai melangkah maju, menyeret tubuhku yang mendadak terasa kosong tanpa penghuni. Pikiranku masih terperangkap di suara tawa yang memenuhi kelas. Untung langkahku punya memori yang bagus sehingga mereka bisa menuntunku yang masih tenggelam di awang benakku.

Kakiku mulai memasuki labirin gang yang rumit. Hiruk-pikuk orang lambat laun berubah menjadi hiruk-pikuk hewan kecil yang sibuk dengan dunianya sendiri. Makhluk kelabu itu terkadang melompat keluar dari lubang got, berlarian bersama temannya di atas paving block. Dinding pembatas gang berwarna-warni dihiasi oleh lumut hijau yang bertambah banyak seiring langkahku yang berjalan semakin jauh ke dalam.

Paduan suara para tikus menemaniku seiring perjalanan, membuatku merasa sedikit tenang. Langkahku berhenti di depan sebuah gedung tua. Aku sempat terdiam memandanginya sebelum akhirnya mengibas kepalaku cepat agar fokus, memasang senyum manis di wajah murungku. Dipandu oleh kebiasaan, kakiku menekuk untuk berjongkok, menyingkap keset yang menyembunyikan sebuah kunci berwarna perak.

Suara pintu terbuka. Aku membuka tali sepatuku lalu menyusunnya dengan rapi di dekat keset. “Asya pulang!” Ucapku dengan lantang.

Suara sunyi serta kegelapan yang dingin menyambutku. Aroma debu yang pekat sempat membuatku bersin. Suasana ini dulu membuatku merasa sepi, tapi sekarang aku sudah terbiasa. Bahkan suasana sekarang lebih nyaman; tidak ada mata yang menakutkan dan suara tawa yang membuat wajahku panas.

Setelah meletakkan tas sekolah ke atas meja, langkahku langsung tertuju pada kalender yang menempel di dinding. Ada tanda silang besar di atas angka hitamnya yang kuhias menggunakan krayon mengikuti baris kotak yang ada. Halaman kalender itu sudah hampir penuh dengan coretan.
Aku tersenyum tipis, mengangkat jemariku ke angka di kalender.
“Satu…dua… tiga,” gumamku.

Jemariku mendadak berhenti di udara. Kepalaku terayun lemah ke kiri dan ke kanan, bingung. Masih ada tanda silang lagi setelah tiga, tapi aku masih belum menghafal hitungan selanjutnya. Bu Guru telah mengajari kami tentang perhitungan, tapi aku lebih suka belajar dengan Ibu. Jadi, di saat Bu Guru menerangkan, aku memutuskan untuk ikut temanku bermain di taman bernama mimpi.

Aku tidak ingin terlalu memusingkan perkara hitungan ini. Ibu menyebutku sebagai anak yang pandai, jadi aku pasti akan bisa berhitung sendiri nantinya. Dengan senyum bangga, aku menambahkan bentuk silang lagi ke dalam kalender di dinding. Kali ini aku memilih warna merah muda, warna baju cantik yang ibu pakai di hari pertama bekerja.

Karena aku tidak memiliki dua orang tua seperti temanku yang lain, Ibu adalah satu-satunya orang yang menjadi panutanku. Aku sangat ingin menjadi seperti Ibu yang manis dan kuat, jadi aku meniru semua hal tentangnya, termasuk caranya berpakaian. Aku minta dibelikan baju cantik mirip punya Ibu dengan sopan, membuat Ibu tersenyum hangat sambil tertawa kecil. Ibu berjongkok di hadapanku, membelai rambutku yang bergelombang. Aku masih mengingat jelas suara lembutnya yang berkata, “Iya, anak manis, nanti Ibu belikan ya? Tapi Asya harus janji dulu sama Ibu.”
“Janji apa?” Ucapku bingung.

Belaian Ibu berhenti sejenak mendengar pertanyaanku. Aku bisa melihat pantulan wajahku dari mata ibu yang seperti langit malam. Ibu terlihat sangat cantik saat itu. Untuk pertama kalinya, Ibu tersenyum bahagia. Ia seperti merpati putih yang berterbangan bebas di langit.
“Janji Asya harus jaga rumah, oke?” Kata Ibu.

Aku memiringkan kepalaku untuk berpikir sejenak. Itu adalah hal yang mudah bagiku. Aku sudah terbiasa menjaga rumah.
Aku mengangguk mantap, ingin menjadi anak manis yang bisa Ibu andalkan. Ibu bekerja untuk membeli rumah untuk kami. Aku masih terlalu kecil untuk bekerja, jadi tak bisa membantu Ibu. Jadi aku hanya bisa menjadi anak manis yang menuruti ucapan Ibu.

Setelah mengecup keningku, Ibu pergi kerja dengan senyum hangat sembari menderet koper miliknya keluar dari rumah kecil kami. Untuk sesaat, Ibu tampak bebas, seolah ia baru saja pergi dari sangkar. Aku melambaikan tangan, berharap ibu tidak kedinginan di tempat kerja barunya.

Suara derit koper yang menjauh masih terngiang di benakku; bayangan pundak ibu yang menjauh perlahan memudar, membawaku kembali ke kalender di atas dinding. Aku mengedipkan mataku perlahan. Suara hangat ibu digantikan oleh denting jam yang menggema. Ingatan tentang Ibu membuat dadaku sesak. Tanpa kusadari pipiku sudah basah oleh air mata. Berbagai pertanyaan tak beraturan muncul di benakku.

“Kapan ya Ibu pulang? Asya kangen.” “Apa Ibu lupa jalan pulang ya?”, “Gimana kalau Ibu diculik orang jahat?” “Gimana kalau Ibu diambil Ayah?”

Dari segala pertanyaan, pertanyaan terakhir adalah yang paling menakutkan. Dulu, Ayah adalah pangeran kami. Kami tinggal di istana yang besar sekali. Dia suka membawaku dan Ibu jalan-jalan dan pergi piknik. Tapi semenjak kami pindah ke rumah yang lebih kecil, dia berubah jadi monster jahat. Dia membuat semua barang terbang, hal yang hanya dilakukan anak nakal dan orang jahat. Setiap ayah berubah jadi monster, aku akan berlari dan bersembunyi di lemari. Aku beruntung karena tubuhku yang kecil sulit ditemukan, tapi Ibu adalah orang dewasa, jadi dia mudah ditemukan.

Aku tidak tahu apa yang dilakukan monster terhadap Ibu, tapi itu pasti hal yang menakutkan karena Ibu akan mengacuhkanku setelahnya. Aku tidak suka monster itu. Dia senang menjahili Ibu sampai menangis. Karena Ibu adalah orang yang baik hati, dia tidak pernah marah pada monster itu. Dia bahkan merasa sedih saat monster itu akhirnya pergi dari rumah kami.

Aku menghela nafas panjang dan menghapus bekas air mata di pipiku. Tidak, aku tidak boleh cengeng. Aku harus bisa menjadi anak manis yang bisa Ibu andalkan. Ibu itu kuat, jadi tidak mungkin diambil oleh Ayah.

Aku mengusap kertas gambar yang kusut, mencoba meratakannya kembali. Teman-temanku salah besar. Cita-citaku tidak aneh; merekalah yang payah karena tidak mengerti. Menjadi rumah itu berarti aku bisa membantu Ibu, jadi ia tidak perlu lagi capek-capek bekerja karena sudah ada rumah besar yang bisa melindungi orang dewasa seperti Ibu. Aku akan menjadi rumah yang baik dan menjaga agar tidak ada barang yang melayang. Jika ada monster datang, aku akan mengunci pintu dengan rapat.

Sembari menempelkan kertas gambar di samping kalender, kepakan sayap mencuri perhatianku. Di ambang jendela, ada burung merpati bertamu. Burung kecil itu mengingatkanku akan Ibu, sangat cantik.

Aku mendekati tamu kecil itu perlahan, takut menakutinya. Burung itu memiringkan kepalanya, menatapku dengan mata bulatnya yang familiar, mengukir senyum kecil di wajahku.
“Halo, kamu cantik banget. Mirip sama Ibu Asya,” ucapku kepada makhluk kecil itu.

Seolah memahami perkataanku, Merpati itu mendengkur.

“Wah, kamu paham ya Asya bilang apa? Kalau begitu Asya minta tolong yah?”
Aku mendekatkan wajahku ke ambang jendela dan merpati itu tidak ketakutan; dia malah mendekat, mendengar bisikan lirihku.
“Nanti, kalau kamu ketemu Ibu Asya, tolong bilang kalau Asya sudah jaga rumah dengan baik. Bilang juga ke Ibu, cita-cita Asya nanti adalah menjadi rumah besar merah. Asya bakal belajar dengan giat biar bisa gapai cita-cita Asya, jadi Ibu jangan lama-lama kerja dan cepat pulang ya?” Ucapku sambil tersenyum hangat, mirip senyum Ibu.

Burung itu tampak mengangguk paham. Setelah aku selesai bicara, dia langsung melesat tinggi ke langit, membelah langit yang berwarna jingga. Aku hanya bisa menatapnya dari dalam rumah yang dingin, berharap ia bisa menyampaikan pesanku kepada Ibu dengan segera. Saat sosok merpati itu telah menghilang, aku membalikkan badan. Rasa hampa yang tadi kurasakan menguap di udara. Berganti dengan keyakinan yang teguh.

Aku bersandar di dinding bawah jendela, memeluk lututku. Perlahan mataku terasa berat dan seketika terpejam, membawaku ke taman mimpi. Di dalam lelapku, aku menjadi rumah merah besar yang memiliki cerobong asap. Aku berdiri dengan kokoh, bersiap menyambut burung merpati putih cantik yang pulang dengan senandung gembira. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *